Translate

Jumat, 31 Mei 2013

Prinsip Dasar OVOP



Pengembangan Produk Unggulan 
dengan Pendekatan OVOP di Indonesia  



Kisah sukses membangun suatu  program pengembangan regional dengan pendekatan One Vilage One Product (OVOP) di Jepang dan Thailand mengilhami Gerakan OVOP di sejumlah negara, termasuk di Indonesia. Adapun nama -nama Gerakan OVOP diberbagai negara antara lain di China  One Factory One Product, One City One Product, One District One Product, One Village One Treasure, One Town One Product One Capital One Product.  OVOP di Philipina  dikenal dengan One Barangay One Product  dan  One Region One Vision.  Gerakan The One village One Product (OVOP, Red. Jepang :Isson Ippin Undō)  adalah program pengembangan regional di orang-orang Jepang.  Gerakan OVOP ini dimulai di Oita Perfecture tahun 1979 oleh Morihiko Hiramatsu.  Dr. Morihiko adalah pensiunan Ministry of Economy, Trade and industry/METI Jepang, dan pulang ke kampung halaman di perfecture/propinsi Oita. Pada tahun  1997. Belajar dari Desa Oyama dan Yufuin, Morihiko  mengembangkan OVOP.  Pada  tahun 2007 sudah ada 51 negara yang mengadopsi OVOP. Pada setiap tanggal 12 Nopember  telah ditetapkan Hari OVOP Internasional. Beliau telah terpilih menjadi gubernur selama 6 periode karena keberhasilannya dalam mengembangkan OVOP. Tahun 2013 beliau sudah mencapai usia 89 tahun.


Dalam konsep OVOP, masyarakat Jepang harus dapat menghasilkan barang-barang terpilih dengan nilai tambah tinggi.  Satu  Desa menghasilkan satu produk utama yang kompetitif sebagai suatu usaha meningkatkan pendapatan dan  standard kehdiupan penduduk di desa tersebut.  Diantara produk yang berhasil  dikembangkan dengan pendekatan OVOP di Oita Prefecuture adalah  Jamur  Shitake, jeruk  kabasu, green house mikan, beef, aji, dan barley (shochu).  Jamur Shitake merupakan salah satu contoh produk unggulan yang berhasil dikembangkan di  Oita  Prefecture. 

OVOP adalah suatu gerakan bukan proyek. Di Oita, Pemda Oita tidak memiliki dana / subsidi khusus dan proyek khusus tentang OVOP. Pemda Oita berusaha membangkitkan semangat Pemda local agar mereka menciptakan sesuatu yang dibanggakan bersama lokalitas masing-masing. Pemda local harus memanfaatkan subsidi umum yang ada. Pemda Oita menyediakan lembaga riset untuk teknologi local dan mempromosikan produk local ke pasar luar (seperti Tokyo). Gerakan OVOP bukan satu-satunya kebijakan pembangunan daerah.  Contoh di Oita : tetap berusaha menarik investor dari luar. Perlu pemberian semangat untuk desa-desa yang tidak bisa menarik investor. 


Tujuan Utama OVOP :

Kemandirian Masyarakat  dan Pemerintah membantu siapa yang  berusaha mandiri


OVOP adalah cara menigkatkan kesejahteraan masyarakat
Dia berkunjung ke kantong kemiskinan untuk mengidentifikasi potensi lokal, dan melibatkan stakeholders untuk berkoordinasi dan bersynergi dalam penyusunan  rencana aksi/Action Plan bagaimana mengembangkan produk lokal produk dengan solusi added value dan solusi hulu sampai hilir. Peranan Pemda Propinsi untuk R&D, dan Pemda Kab/kota untuk promosi, desain, capacity building ujung-ujungnya peningkatan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat.



Jamur Shitake di Oyama
Oyama adalah daerah termiskin, pemilikan tanah petani rata-rata hanya 0,4 ha, dan di Oyama ada pohon-pohon besar berpotensi untuk pengembangan jamur Shitake. Hasil kajian Jamur Shitake bermanfaat untuk penyembuhan kanker dan penurunan kolesterol. Shitake dikembangkan oleh tenaga ahli dari Perguruan Tinggi setempat, dan diperkenalkan kepada masyarakat di Oyama. Pada awalnya tingkat resistensi masyarakat tinggi, hanya 2-3 orang saja yang berpartisipasi. Dengan ada sentuhan teknologi, packaging, dan promosi pemda melalui media massa, permintaan pasar meningkat dan fanastisme konsumen meningkat. Pada tahun 2009 harga jamur shitake kering US $ 280/kg , bandingkan dengan harga mobil Toyota hanya US $ 19/kg. Peningkatan Value added yang luar biasa! Hal ini tentunya meningkatkan pendapatan para petani secara signifikan.  Pada tahun 2001, Jamur Shitake ini menguasi 28 % pangsa pasar domestik.Khusus Jamur Shitake, Dipta (2011) mengemukakan Gerakan OVOP  berhasil meningkatkan pendapatan petani setempat dengan kenaikan harga Jamur Shitake.

Jamur shitake mempunyai ukuran yang tidak besar dibanding jamur yang lain seperti jamur tiram.  Jamur shitake di pasaran mempunyai harga yang tidak murah, kenapa bisa mahal padahal bentuknya kecil? ternyata selain rasanya yang oke punya, jamur shitake mempunyai manfaat yang cukup besar buat kesehatan. Jamur shitake kaya akan protein yang tentunya berperan baik untuk menunjang kesehatan tubuh, selain protein jamur shitake juga mengandung asam amino yang di butuhkan tubuh seperti thiamin, riboflavin dan niachin, serta mengandung enzim dan beberapa jenis serat. Kandungan ergosterol dalam jamur shitake akan di olah oleh tubuh menjadi vitamin D setelah kulit terkena sinar matahari, sehingga jamur shitake dapat menjadi sumber vitamin D bagi tubuh. Asam amino yang terkandung dalam jamur shitake dapat membantu meningkatkan  sistem kekebalan tubuh, mengatasi gangguan pencernaan, hati dan melancarkan peredaran darah.

Dari temuan para ahli kesehatan, ditemukan kandungan letinan dalam jamur shitake yang dapat berfungsi menjadi anti kanker. Jamur shitake juga dapat membantu mengobati tekanan darah tinggi, mengurangi kadar kolesterol darah dan juga dapat menyehatkan jantung. Bahkan ternyata jamur shitake ini dapat membantu meningkatkan penampilan. jamur shitake dapat membantu melancarkan peredaran darah di daerah wajah sehingga kulit wajah menjadi sehat, halus dan kencang. Selain itu juga dapat menyehatkan rambut. Kelebihan itulah yang diangkat oleh Morihiko Hiramatsu dalam pendekatan OVOP, sehingga orang berlomba-lomba untuk mencari tahu dan membelinya.

Prinsip OVOP
Morihiko berpendapat bahwa OVOP memiliki 3 prinsip antara lain adalah
  1. Local yet global; yakni bagaimana masyarakat dapat berpikir Global dengan bertindak lokal. Pada mulanya masyarakat mengembangkan produk khas/uniek yang baik dengan kualitas unggul, kemasan baik, manfaat luar biasa yang tidak dapat digantikan dengan produk lain/product differential. Lambat laun produk tersebut dapat memiliki konsumen yang fanatik di dalam negeri yang selanjut berkembang ke pasar ekspor. Shitake pada tahun 2009 telah dieksport sebanyak 30% dari total pemasaran.
  2. Mandiri, kreatif dan inovatif ; Pemerintah memberikan berbagai fasilitas hanya untuk pengembangan produk dengan program program yang kompetitif yang terseleksi secara ketat. One Village One Product dimaksudkan bukan satu desa satu produk melainkan setiap desa terpilih satu produk yang difasilitasi oleh pemerintah untuk dikembangkan. Program yang mencerminkan kemandirian, kreativitas dan inovatif dari masyarakat yang diprioritaskan untuk difasilitasi. Sebaliknya, program OVOP yang difaslitasi menghindari bantuan-bantuan yang akan mencederai semangat kemandirian, kreativitas dan inovasi masyarakat yang menghalangi keberhasilan program OVOP jangka panjang. Study APEC menyimpulkan bahwa subsidi pemerintah menciptakan ketergantungan masyarakat dan menurunnya semangat berwirausaha. Sebaiknya pemerintah fokus pada penciptaan iklim kondusif berusaha seperti regulasi, R&D, capacity building, dan  promosi produk.
  3. Capacity Building: Prinsip ketiga menurut Morihiko bahwa pengembangan kapasitas harus senantiasa dilakukan untuk mengikuti perkembangan jaman; teknologi, produk, fashion, dan desain.  Capacity building dalam Penerapan Teknologi cloud computing akan mengurangi biaya pengembangan produk dengan joint provider/web/provider ditambah pelayanan lainnya. Capacity building dalam meningkatkan semangat berkoperasi terus dikembangkan. Berbagi pengalaman terbaik dalam pengembangan bisnis-bagaimana mengembangkan produk dan penetrasi pasar- pada acara makan siang/malam bersama para anggota koperasi  terus dilakukan. Lebih jauh usaha  kolaborasi dalam wadah koperasi  diantara anggota koperasi sangat penting, contoh di Yufin, koperasi beranggotakan hanya 700 orang yang sebagian besar sudah ke Bali, sudah memiliki  asset mencapai Rp 23 Trilyun pada bisnis sektor pertanian, memiliki 5 mini market, 5 restauran. Ketua pengurus koperasi lulusan S3 bidang ekonomi dengan leadership ketua  sangat baik.

OVOP di Thailand
Gerakan  sejenis OVOP juga dikembangkan di Thailand dengan nama One Tambon One Product (OTOP)   Lebih lanjut Wikipedia-The Free Encyclopedia (2011) menyebutkan bahwa  One Tambon One Product (OTOP) adalah program stimulus kewirausahaan  lokal yang didisain oleh  Perdana Menteri Thailand, Taksin Sinawat tahun  2001-2006.   Program ini ditujukan untuk mendukung produk-produk  lokal yang unik dan dipasarkan oleh  Thambon (subdistrict) .  Program ini  dijalankan setelah melihat  Jepang  berhasil menjalankan program One Vilage One Product (OVOP).   OTOP di Thailand   membantu   masyaakat pedesaaan untuk memperbaiki  kualitas produk lokal dan pemasarannya melalui penyediaan promosi di tingkat lokal dan internasional. Dalam menjalankan program ini, pendekatan OTOP Thailand   dimulai dengan  memilih satu produk yang paling superior diantara produk-produk yang ada di desa itu,  dan setiap produk diberikan branding  a "bintang produk  OTOP".  Produk-produk OTOP  Thailand mencakup  kerajinan,  baju cotton dan sutra,  barang-barang tembikar,  asesori fashion, barang-barang rumah tangga,  dan makanan.   Setelah Junta Militer berkuasa,  program  OVOP di batalkan dan dikembalikan dan diberi nama lain. Selanjutnya Ovop Thailand klik di bawah ini


OVOP Indonesia

Pendekatan OVOP di Indonesia tidak jauh berbeda dengan apa yang telah dilakukan di Jepang dan Thailand.   Implementasi  OVOP di negara kita mengikuti  suatu konsep program membangun suatu regional, mungkin bisa  tingkat desa , kecamatan, kota dan selanjutnya  memilih satu produk utama yang  dihasilkan dari kreativitas masyarakat desa. Pendekatan OVOP juga  menggunakan sumberdaya lokal, memiliki kearifan lokal dan  bernilai tambah tinggi. Produk-produk yang dipilih menjadi Gerakan OVOP tidak hanya dalam bentuk tangible product, tetapi juga dalam wujud intangible product, misalnya produk-produk budaya dan kesenian khas daerah yang memiliki nilai jual tinggi secara global.
Husaini (2011) mengemukakan bahwa OVOP dalam bentuk konsep SAKA SAKTI ( Satu Kabupaten/Kota  Satu Kompetensi Inti) yaitu suatu konsep yang dikembangkan dalam rangka  membangun daya saing suatu daerah dengan menciptakan kompetensi inti bagi daerah tersebut agar dapat bersaing di tingkat global.   Konsep ini sangat diperlukan agar sumber daya dan kemampuan yang dimiliki oleh daerah diarahkan untuk menciptakan kompetensi inti. Ada dua konsep dalam membangun kompetensi inti melalui pendekatan  Gerakan OVOP. Pertama, konsep membangun produk unggulan yaitu  mengembangkan produk lokal  yang memiliki keunggulan dari sisi keunikan, kekhasan, kemanfaatan yang lebih besar bagi pengguna produk serta memberikan keuntungan yang besar penghasil produk tersebut.   Kedua, konsep membangun kompetensi inti daerah, dalam hal ini daerah harus memilih kompetensi inti daerah  yang  bersangkutan dilihat dari keunikan, kekhasan daerah, kekayaan sumberdaya alam, peluang untuk menembus pasar internasional dan dampaknya.

Gerakan OVOP di Indonesia telah menjadi prioritas pembangunan nasional.  pengambangan Hal ini didukung dengan ditetapkannya Inpres No. 5  Tahun 2008 tentang Fokus Program Ekonomi Tahun 2008-2009  sebagai kelanjutan dari Ipres No. 6 Tahun 2007 Tentang Kebijakan Percepatan Pengembangan Sektor Riil dan Pemberdayaan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Inpres tersebut ditujukan untuk mendorong efektifitas pengembangan One Village One Product (OVOP). Sasaran Gerakan OVOP di Indonesia adalah  berkembangnya sinerji produksi dan pasar. Melalui Inpres ini semua Kementerian, Gubernur dan Bupati/Walikota  berkorodinasi dan secara bersama mensukseskan Gerakan  OVOP.

Dalam rangka menindaklanjuti Inpres tersebut, pada tahun  2007 Menteri Perindustrian telah menerbitkan Peraturan Menteri Perindustrian No. 78/M-IND/PER/9/2007 Tentang Peningkatan Efektivitas Pengembangan Industri Kecil dan Menengah (IKM) melalui Pendekatan Satu Desa Satu Produk (OVOP). Sasaran program pendekatan OVOP yang dilakukan Kementerian Perindustrian adalah industri kecil dan menengah (IKM)  di sentra-sentra IKM yang menghasilkan produk-produk terbaik.

Kementerian Koperasi dan UKM telah menetapkan OVOP sebagai Indikator Kinerja Utama (IKU)  dalam mengukur keberhasilan program Kementerian Koperasi dan UKM  2010-2014. Pada tahun  2010 -2014 Kementerian Koperasi dan UKM telah menargetkan milestone OVOP di 100  Kabupaten/ Kota di seluruh Indonesia.  Gerakan OVOP merupakan suatu Gerakan nasional dan bersifat lintas sektoral, serta melibatkan instansi-instansi terkait. 

Landasan Hukum OVOP
  1. Undang-undang Nomor 25 tahun 1992, Tentang Perkoperasian. Dan Undang-undang Nomor 20 tahun 2008, Tentang Usaha Mikro, Kecil Dan Menengah.
  2. Instruksi Presiden Nomor 6 Tahun 2007  Tentang  Percepatan Sektor Riil dan Pembangunan Usaha Mikro Kecil dan Menengah tanggal 8 Juni 2007 yang mengamanatkan pengembangan sentra melalui pendekatan One Village One Product (OVOP).                 
  3. Keputusan Rapat Kerja Kementerian Koperasi dan UKM dengan Komisi VI DPR-RI tahun 2008 agar program OVOP dapat dikembangkan di Provinsi lain.
  4. Telah diamanatkan dalam Program Kerja 100 hari Kabinet Indonesia Bersatu II.
  5. Telah ditetapkan tonggak pencapaian key development milestone untuk periode pertama Tahun 2010 – 2014 : 100 OVOP berhasil.
  6. Arahan Menteri Negara Koperasi dan UKM dalam Rapat Pimpinan (Rapim) dan Rapat Koordinasi Nasional Tahun 2010.
Milestones OVOP di berbagai daerah.  Anda dapat melihat beberapa implementasi pendekatan OVOP di Indonesia.
1.    Asparagus Badung Bali
2.    Kopi Tanggamus Lampung
3.    Coklat Palopo Sulawesi Selatan
http://palopoovop.blogspot.com/

1 komentar: